s2020021.jpgSEJUTA HARAPAN DI MALAM LAILATUL QADR

 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”(QS.Al-Qadr(98) :1-8)

Kehadiran Lailatul Qadr menurut sekian banyak hadist Nabi, diharapkan pada malam-malam-malam ganjil pertigaan terakhir bulan Ramadhan. Apakah “Malam Qadr” itu dan bagaimana kehadirannya? 

 Kata Qadr berarti “mulia”. Kemuliaannya, antara lain, karena turunnya Al-Qur’an pada malam itu. Qadr juga berarti “pengaturan” karena ketika itu Allah mengatur “khiththah” dan strategi nabi-Nya guna mengajak manusia kepada ajaran yang benar. Qadr juga berarti ketetapan bagi perjalanan hidup makhluk (manusia).   Tidak sedikit orang mengaitkan kehadiran Lailatul Qadr dengan tanda-tanda alamiah. Hal tersebut  tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang jelas ialah ketika itu dirasakan –oleh yang menemui- adanya kedamaian dan kesejahteraan. Ketika itu turun juga malaikat-sesuatu yang tidak kita ketahui hakikatnya. Apapun arti dan hakikat Lailatul Qadr, yang jelas adalah bahwa Nabi menganjurkan umatnya untuk berusaha “menemuinya”. Tentu saja pertemuan dengannya bukan menunggu dengan tidak tidur sepanjang malam, karena jika demikian maka orang-orang yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri kepada Alloh sambil menyadari dosa dan kelemahan kita yang harus dilakukan., khususnya sepanjang bulan Ramadhan. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas, dan berkesinambungan, akan berbekas di dalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian dan ketentraman serta dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seseorang.   Memang, ada saat-saat dalam perjalanan hidup manusia yang dapat menimbulkan kesadaran ruhani yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kehidupannya. Saat-saat itu memang dapat terjadi sewaktu-waktu, namun bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat karena di bulan ini jiwa telah diasah dan diasuh selama satu bulan penuh dengan puasa.   Selama satu bulan berpuasa kita ditempa untuk dapat mengendalikan hawa nafsu baik lahiriah maupun batiniah. Sungguh sangat berat untuk dapat melaksanakannya dengan sempurna. Namun bila kita berhasil melakukannya maka jaminan pahala yang akan diperoleh akan berlimpah. Semua kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki dapat diperoleh manusia dengan tekad yang bulat dan usaha/kerja keras sepenuh hati. Bulan Ramadhan ini adalah saat yang paling tepat sebagai titik pangkal kita memulai kerja keras untuk meraih kebahagiaan hakiki.   Apabila kesadaran ruhani telah diperoleh seseorang, maka akan berubah seluruh sikap dan pandangan hidupnya. Ia benar-benar merupakan peletakan batu pertama dari kebajikan sepanjang usianya dan sekaligus ia merupakan “malam penetapan” atau Lailatul Qadr bagi kehidupan di alam fana’ dan baqa’. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya, yang dilanjutkan sampai di akhirat, ia akan mengalami kedamaian dan kesejahteraan. Ia juga akan merasakan kehadiran malaikat yang, antara lain berfungsi mengkokohkan jiwanya serta membimbing dan mendorongnya untuk melakukan kebajikan-kebajikan serta menghindari pelanggaran-pelanggaran. Tidak ada yang lebih membahagiakan diri kita selain bertemu dengan Sang Pencipta kita dengan membawa piala keberhasilan perjuangan melawan segala hawa nafsu dan menjadi manusia fitrah kembali. Semoga harapan ini tidak hanya sebatas angan semata, namun benar-benar berusaha kita wujudkan dengan segala daya dan upaya. Wallahu’alam bi shawab.