buta aksaraPeningkatan Akses Pendidikan Keaksaraan

Langkah Penting Pembangunan Ekonomi Masyarakat

Oleh : Diana Andriyani P, S.Sos

Pendidikan merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebuah negara, jika ingin maju di bidang pembangunan ekonomi. Tidak ada negara yang maju perekonomiannya hanya berdasarkan kekayaan alam. Negara harus berinvestasi pada manusia, karena manusia bisa selalu diperbarui (renewed). Pendidikan pertama yang harus dituntaskan oleh masyarakat Indonesia adalah pendidikan keaksaraan. Karena kesuksesan pembangunan di bidang pendidikan ternyata juga tergantung pada kemampuan membaca dan minat baca yang ada pada masyarakat. Minat baca yang rendah akan mempengaruhi kemampuan seseorang dan secara tidak langsung akan berakibat pada rendahnya daya saing dirinya dalam percaturan internasional. Namun sayangnya tingkat ekonomi yang rendah seringkali menjadi alasan lemahnya akses masyarakat pada pendidikan dan lemahnya daya beli buku sebagai penunjang pendidikan keaksaraan. Akibatnya, masih banyak masyarakat merasa asing dengan buku dan memiliki minat baca yang rendah. Kondisi ini merupakan salah satu dampak kemajuan teknologi. Dewasa ini, telah terjadi perubahan signifikan dari budaya lisan menuju budaya elektronik seperti televisi dan radio, sebelum memasuki tahapan budaya tulis yang sempurna. Dengan kata lain, masyarakat telah langsung melompat dari tradisi mendongeng ke tradisi menonton sebelum terbiasa dengan tradisi membaca. Akibatnya, masih banyak masyarakat yang buta aksara, padahal kunci produktivitas untuk pembangunan ekonomi masyarakat terletak pada penciptaan nilai tambah yang bisa dilakukan jika masyarakat bebas buta aksara sehingga luas pengetahuannya.

Kemampuan membaca sangatlah penting. Sejak dulu sampai sekarang, para pemimpin negeri ini telah menyerukan untuk membudayakan membaca. Di tengah revolusi maha hebat pertengahan tahun 1960-an, Presiden (ketika itu) Soekarno menyerukan agar masyarakat suka membaca tanpa sekali-kali bersikap prasangka. Saat itu Soekarno menandaskan bahwa bagi manusia yang benar-benar mau menjadi manusia berharga, membaca sangatlah penting. Para pemimpin bangsa setelahnya pun tak mau kalah dalam mencanangkan berbagai gerakan memasyarakatkan membaca. Mantan Presiden Soeharto mencanangkan Hari Aksara, Hari Kunjung Perpustakaan, serta Bulan Membaca pada 14 September 1995. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri menyerukan Gerakan Membaca Naisonal pada 12 November 2003. Hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mencanangkan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat pada 17 Mei 2006. Namun, kenyataannya hingga kini budaya membaca masih menjadi persoalan bagi bangsa ini.

Jangankan membaca sebagai sebuah budaya, melek huruf masih menjadi hantu yang menggentayangi masa depan bangsa. Berdasarkan Education For All Global Monitoring Report Tahun 2005, Indonesia merupakan Negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia, yakni sekitar 18,4 juta orang buta huruf di Indonesia. Meski demikian, ada indikasi jumlah penyandang buta aksara di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan. Optimisme Pemerintah pun kian tumbuh untuk memenuhi target menurunkan jumlah buta aksara usia 15 tahun ke atas pada akhir 2009 menjadi 5% dapat tercapai. Apalagi pada beberapa waktu terakhir, kepedulian berbagai komponen bangsa dalam mendukung Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara kian bertambah. Bahkan Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia ini telah dikukuhkan dengan terbitnya Instruksi Presiden No.5 Tahun 2006. Usaha Pemerintah sejauh ini sejalan dengan adanya kesepakatan dalam Deklarasi Dunia Tentang Pendidikan untuk Semua (Education For All) yang ditetapkan di Thailand tahun 1990 dan telah ditindaklanjuti dengan Rencana Aksi Dakar di Sinegal tahun 2000. Dalam akta Rencana Aksi Dakar 2000 tersebut dicanangkan tekad untuk mencapai target 50% melek aksara baru orang dewasa terutama wanita pada tahun 2015. Harapan Pemerintah, dengan kemampuan keaksaraan itu masyarakat yang telah bebas buta aksara didorong untuk melanjutkan pendidikan dasar serta terus didorong untuk mengikuti pendidikan berkelanjutan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Indikasi menurunnya jumlah penyandang buta aksara dari tahun ke tahun turut didukung adanya antusiasme masyarakat pada bacaan. Kondisi dapat dilihat pada semakin maraknya kegiatan mempromosikan bacaan seperti pameran buku dan festival buku murah yang diselenggarakan di bebagai daerah. Dimana pada setiap penyelenggaraannya dapat menyedot animo masyarakat untuk berkunjung cukup besar. Momentum ini sangat tepat untuk mencanangkan gerakan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan keaksaraan sekaligus mendukung penuntasan pemberantasan buta aksara di Indonesia.

Penyuksesan Gerakan Percepatan Peberantasan Buta Aksara sangat membutuhkan dukungan penuh dari Pemerintah dan masyarakat. Kurangnya fasilitas pendukung gerakan ini secara otomatis akan sangat mengurangi efektivitas program ini untuk mencapai target yang diharapkan. Beberapa kendala yang masih menjadi penghambat gerakan ini antara lain akses yang kurang terhadap pendidikan berkualitas (masih mahal dan belum gratis), akses yang kurang terhadap buku lantaran harga buku yang mahal, minimnya tempat membaca seperti perpustakaan yang layak dan memadai, serta kurangnya motivasi membaca baik dalam keluarga maupun di sekolah. Memang di negeri yang pemenuhan sandang pangan warganya masih menjadi persoaln hidup sehari-hari, keinginan membaca menjadi beban, mengingat mahalnya harga buku. Alhasil, jalan masih panjang untuk membangun budaya membaca.

Pendidikan di Indonesia belum bisa dirasakan oleh 10% dari warga Indonesia. Bahkan sekitar 15,4 juta warga Indonesia berusia di atas 15 tahun ternyata masih buta aksara. Kondisi memerlukan solusi yang efektif dan efisien. Ada dua tindakan utama yang dapat dilakukan Pemerintah namun harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat untuk melakukan pemberantasan buta aksara secepatnya. Solusi tindakan yang pertama adalah memberdayakan agama untuk turut membangun kesadaran meningkatkan pendidikan keaksaraan. Dalam sudut pandang agama-agama yang ada di Indonesia, pendidikan adalah suatu kegiatan yang bernilai wajib. Pemaknaan tersebut dapat menjadi salah satu gerakan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan sekaligus mendorong penuntasan wajib belajar sembilan tahun yang tak kunjung usai. Adanya kesadaran bersama antar masyarakat dan Pemerintah diharapkan nantinya akan tercipta jaringan besar dengan isu pendidikan sebagai masalah bersama. Dengan kemandirian dan kesadaran masyarakat yang kuat terhadap pendidikan, Pemerintah dapat ditekan agar menjalankan tugas-tugasnya meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Agama apapun pasti melarang hadirnya sumber daya manusia yang rendah dan buta aksara. Namun, ketika orang buta aksara hadir dimana-mana yang menyebabkan kemiskinan baik moral maupun materi semakin meluas dan timbul kriminalitas yang semakin meningkat, itu adalah tantangan bagi umat beragama yang peduli pada pendidikan untuk bekerja lebih sinergi lagi. Agama yang diyakini memiliki energi untuk menggerakkan umat ke arah tindakan – tindakan yang positif bagi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan peran serta dan tingkat kontribusi masyarakat dalam menyukseskan program pendidikan nasional termasuk pendidikan keaksaraan, peran para pemimpin agama sangat penting untuk secara terus menerus menyosialisasikan bahwa pendidikan adalah perbuatan mulia yang diwajibkan setiap agama.

Solusi tindakan yang kedua adalah adanya kebijakan sebagai payung yang antara lain mencakup sistem pembiayaan dan arah pengembangan yang dilakukan Pemerintah untuk menunjang fasilitas Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia. Seperti telah diketahui banyak fasilitas penunjang bebas buta aksara pada masyarakat masih minim dan tidak memadai. Anggaran pendidikan dari Pemerintah yang masih minim baik di lingkungan pendidikan formal (sekolah/wajib belajar 9 tahun) maupun di lingkungan pendidikan non formal (pendidikan luar sekolah/kejar paket A-B-C) masih kurang dalam memfasilitasi masyarakat untuk meningkatkan pendidikan termasuk pendidikan keaksaraan. Apalagi ditambah kondisi saat ini, dimana harga buku yang mahal kurang menunjang pergerakan pemberantasan buta aksara di Indonesia. Bahkan harga buku di Indonesia jauh lebih mahal daripada di India. Di India, sudah tidak ada pajak kertas dan pertambahan nilai untuk penerbitan buku sehingga bisa menekan biaya produksi buku hingga sekitar 20%. Bahkan New York Times dalam sebuah artikelnya berjudul Getting Books Cheaper From India melaporkan, kini semakin banyak buku teks Amerika yang diterbitkan di India. Pajak yang lebih rendah, tenaga kerja yang lebih murah, dan mencetak buku hitam putih membuat buku dapat dijual dengan harga lebih murah. Pihak penerbit dari Amerika atau Inggris juga menjalin kerjasama khusus dengan pemerintah India terkait dengan hak cipta buku. Alhasil, bukui-buku keluaran penerbit Amerika dijual hanya sepersepuluh harga di negara aslinya. Hanya saja terdapat peraturan bahwa buku tersebut hanya dijual di India dan sekitarnya. Hal yang terpenting, isi buku dapat diakses murah oleh masyarakat India. Sayangnya, Pemerintah Indonesia baru beraksi sebatas gerakan, belum menyentuh persoalan nyata. Sayangnya lagi, di tengah tingginya harga buku, di tanah air juga masih kurang fasilitas alternatif untuk membaca. Adanya perpustakaan yang disediakan oleh Pemerintah belum dapat berfungsi optimal akibat minimnya anggaran dana pembinaan dan sistem perpustakaan yang cenderung masih tertutup/terbatas, yang mengakibatkan akses masyarakat untuk membaca menjadi terbatas. Kondisi yang lebih parah lagi, terjadi di sekolah-sekolah yang tidak ada fasilitas perpustakaannya, sehingga pembudayaan membaca jauh lebih tertinggal. Lebih memprihatinkan lagi, para murid diajar dan dididik oleh para guru yang sebelumnya juga tidak ditanamkan kebiasaan membaca. Sebagai contoh, guru hanya mengajarkan merangkai kata dan huruf tetapi belum menanamkan arti pentingnya membaca. Sedangkan di rumah, orang tua yang mendidik anak-anak mereka, sebagian merupakan keluaran dari lingkungan yang jauh dari budaya membaca. Alhasil, yang terjadi adalah lingkaran setan budaya miskin membaca. Oleh karenanya, kesadaran Pemerintah dan masyarakat untuk segera mengambil langkah nyata sangat dibutuhkan.

Inti dari keprihatinan kebudayaan manusia adalah kegiatan membaca masih perlu diapresiasikan secara rutin, disamping apresiasi yang terus menarik perhatian publik pada kegiatan menonton dan mendengar obyek apa saja. Buku tetap menjadi medium yang paling diterima secara luas untuk kegiatan membaca yang bemakna. Kegiatan membaca tidak harus di sekolah dengan buku pelajarannya. Kegiatan membaca lebih menarik perhatian publik karena produk barunya yang datang dari pengarang-pengarang yang terpanggil untuk berproduksi terus menerus. Penulis dan produk baru menjadi resep untuk menarik publik untuk membaca, melupakan mononton dan mendengar.

Peningkatan pendidikan keaksaraan menunjang pembangunan ekonomi masyarakat. Karena bebas buta aksara merupakan penunjang pembentukan pola pikir dan olah rasa manusia untuk menciptakan nilai tambah yang merupakan kunci produktivitas dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Rahasia produktivitas dalam pengembangan ekonomi masyarakat terdapat dalam penciptaan nilai tambah (value added) yang dilakukan. Penciptaan nilai tambah ini membedakan kualitas manusia yang produktif dan tidak produktif. Seberapa besar seseorang mampu menciptakan nilai-nilai yang bermanfaat bagi orang banyak. Pada tingkat negara pun dapat dilihat, ada negara maju dan tidak maju. Negara maju dipastikan dibangun dengan menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki untuk dimanfaatkan masyarakat lebih luas. Beberapa nilai tambah yang diciptakan negara-negara maju dalam produksi mobil, komputer, televisi, telepon seluler sampai bisnis lisensi. Rahasia penciptaan nilai itu ada pada pada olah pikir dan olah rasa. Dalam proses olah pikir dan olah rasa diperlukan stimulan yang diperoleh lebih banyak dari kegiatan membaca disamping menonton dan mendengar. Berdasarkan hasil olah pikir, masyarakat dapat menciptakan nilai tambah yang bisa dirasakan oleh masyarakat lain sehingga kegiatan perekonomian pun meningkat. Produktivitas dapat berarti mengerjakan sesuatu dengan benar. Dengan membaca, masyarakat akan semakin dewasa dalam melihat suatu permasalahan yang berkembang sehingga tidak minim informasi dan pengetahuan. Alhasil, peningkatan pendidikan keaksaraan dapat memacu produktivitas untuk pengembangan ekonomi masyarakat yang lebih baik lagi dan berdikari. Produktivitas dapat terjadi dan ada dalam segala kehidupan, tapi kata kuncinya hanya satu yaitu penciptaan nilai. Penciptaan nilai hanya bisa dilakukan oleh olah pikir dan olah rasa yang benar. Olah pikir dan olah rasa yang benar diperoleh dengan banyak membaca. Masyarakat yang suka membaca akan menjadi masyarakat yang kreatif dan pekerja keras karena membaca lebih banyak mengolah pikiran, rasa, dan kreativitas untuk mengartikan simbol-simbol dalam buku untuk memperoleh pengetahuan dibandingkan dengan mendengar dan menonton. Masyarakat yang sadar akan membaca akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang produktif dan masyarakatnya pun niscaya akan sejahtera.

——-oo000oo——–

 

Iklan