photofunia-1fbcb

REMAJA ISLAM ANTI KEKERASAN

peace

Oleh : Diana Andriyani P, S.Sos

Pemberitaan media massa akhir-akhir ini yang menyoroti aksi kekerasan di kalangan remaja kembali marak. Setelah beredarnya gambar video handphone yang memperlihatkan aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok (geng) remaja putri di Pati Jawa Tengah. Sungguh sangat memprihatinkan, tindak kekerasan di kalangan remaja tidak hanya dilakukan oleh remaja laki-laki namun juga dilakukan oleh remaja perempuan. Bahkan dalam video tersebut, aksi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok remaja perempuan, yang menamai kelompok mereka geng Nero tersebut, tidak kalah sadis dengan aksi kekerasan sekelompok remaja laki-laki yang menamai kelompok mereka geng motor Brigez (Brigadir Seven) di Bandung yang juga pernah menghebohkan masyarakat. Kondisi ini disinyalir bukan hanya terjadi di dua daerah tersebut saja, namun dimungkinkan masih banyak geng/kelompok remaja lain di banyak wilayah Indonesia melakukan tindak kekerasan yang tidak terekspos oleh media. Generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya sudah seharusnya menyadari bahwa ada yang hal yang perlu diperbaiki dalam beberapa aspek kehidupan sehari-hari masa kini.

Beberapa aspek kehidupan yang sangat vital diperbaiki berkaitan dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh para remaja sekarang ini antara lain aspek moral (akhlaqul karimah), aspek pola pendidikan dan budaya, dan aspek lingkungan. Perlu segera disadari bahwa zaman globalisasi seperti sekarang ini banyak dipengaruhi oleh gerakan sekulerisme yang sudah bersifat permisif (serba boleh) dalam arus kehidupannya. Oleh karenanya, para remaja sekarang khususnya remaja Islam harus lebih ekstra berhati-hati menghadapi tantangan perubahan zaman ini dengan memperkuat iman dan mewujudkan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Aspek akhlaq dalam tiap diri remaja berbeda-beda tingkatnya, kesemuanya tergantung pada tingkat pengetahuan agama dan sikap mental tiap individu itu sendiri. Tapi satu yang pasti, akhlaqul karimah dapat dimiliki setiap remaja asalkan pola pendidikan dan budaya dan lingkungan di sekitar kehidupan remaja tersebut mendukung pembentukan serta penguatan akhlaqul karimah.

Pola pendidikan dan budaya yang ada sekarang ini turut mengambil peran membentuk watak remaja brutal atau sering melakukan tindak kekerasan. Pola pendidikan yang cenderung menggunakan metode hafalan dan beban pelajaran yang terlampau banyak mengakibatkan pendidikan itu hanya menyentuh aspek fisik saja dan aspek kejiwaannya kurang mengena pengembangannya. Akhirnya, banyak jiwa remaja yang masih labil menjadi mudah terpengaruh oleh budaya-budaya yang dibawa zaman global yang cenderung mengarah ke aksi kekerasan/kebrutalan. Budaya ketimuran masyarakat Indonesia yang semakin meregang akibat tergerus arus globalisasi menyebabkan berkurangnya kekuatan norma – norma kemasyarakatan seperti norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan norma hukum dalam mengendalikan perilaku masyarakat termasuk para remaja. Lingkungan global yang ada sekarang ini “memaksa” penduduk dunia berperilaku sesuai dengan tradisi global yang disesuaikan dengan kebutuhan serta keadaan global yang ada. Pada akhirnya, aspek moral (akhlaqul karimah), aspek pola pendidikan dan budaya, serta aspek lingkungan menjadi bagian penting kehidupan yang sangat berpengaruh pada pembentukan pola perilaku dan watak kepribadian generasi muda Indonesia.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin atau anugerah bagi seluruh alam semesta sudah memiliki solusinya yang termaktub dalam Al-Qur’an. Sehingga sebagai remaja Islam sudah seharusnya merujuk Al-Qur’an sebagai tuntunan kehidupan serta untuk menyelesaikan berbagai permasalahan seperti aksi kekerasan yang banyak dilakukan remaja masa kini. Oleh karenanya, komunitas kajian remaja mengenai Al-Qur’an dan Al-Hadist pun seharusnya lebih diperkuat lagi intensitasnya baik kualitas maupun kuantitasnya. Karena aspek moral (akhlaqul karimah), aspek pola pendidikan dan budaya, serta aspek lingkungan akan lebih baik serta saling mendukung satu sama lain jika berlandaskan pelaksanaannya pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Kesulitan remaja sekarang untuk tertarik pada Islam disebabkan oleh kurangnya teladan bagi mereka serta kurang berkembangnya kekuatan Islam dalam mempengaruhi masyarakat dunia khususnya menyangkut perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Apalagi Islam pun diidentikkan dengan simbol kekerasan (teroris) yang sudah sangat jelas itu merupakan fitnah yang kejam. Keadaan ini diharapkan segera berakhir, maka diharapkan perubahan itu harus terjadi dimulai dari generasi muda. Penyadaran satu generasi muda akan menjadi cikal bakal perubahan besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bukan dengan aksi kekerasan dengan alas an yang tak masuk akal, tapi dengan aksi perjuangan membela agama, bangsa, dan negara.

Iklan