SUMPAH PEMUDA

photofunia-21225Oleh : Diana Andriyani P, S.Sos

Pemuda merupakan tumpuan harapan bangsa. Kekuatan pemuda yang luar biasa bisa menaklukkan dunia dengan segalan isinya. Maka peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi momentum penting kala masa penjajahan Belanda sebagai tonggak bangkitnya perjuangan pemuda Indonesia membebaskan diri dari belenggu penjajahan.Namun sayangnya semangat pemuda tahun 1928 itu seakan tidak tercermin lagi pada para pemuda tahun 2008. Meski intelektualitas serta fasilitas pemuda tahun 2008 lebih maju daripada pemuda tahun 1928, namun ternyata pemuda 2008 kalah semangat nasionalisme disbanding dengan pemuda 1928.

Dahulu para pemuda tahun 1928 rela mempertaruhkan nyawa berjuang melawan penjajahan bangsa asing hingga mereka bersumpah rela mati demi bangsa. Meski senjata dan pemikiran mereka kalah canggih dibandingkan dengan bangsa penjajah, namun semangat optimisme mereka mampu menggertak para penjajah. Kini ketika Negeri ini telah merasakan nikmatnya kebebasan, semangat para pemuda untuk memajukan bangsanya tak nampak berkobar. Hanya segelintir pemuda yang mampu mengukir prestasinya di tingkat dunia dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Jangankan sumpah untuk memperjuangkan negeri ini, semangat sumpah para pemuda lebih banyak berkobar ketika tawuran, ketika hura-hura pesta pora, dan ketika menganiyaya yang lemah. Berapa banyak tawuran pelajar/mahasiswa yang terjadi di sekitar lingkungan kita, meski pemicunya hanyalah persoalan yang sangat sepele seperti saling ejek mengejek. Banyak pemuda 2008 rela mengorbankan nyawanya demi memenangkan pertarungan yang tak jelas tujuan dan maknanya. Sungguh perbedaan perjuangan dan rela berkorban yang sangat kontras antara pemuda tahun 1928 dengan pemuda tahun 2008.

Masuknya budaya modernitas dan kurang kuatnya kontrol Negara terhadap dampak negatif modernitas mengakibatkan kontruksi pemikiran yang menyimpang pada para pemuda. Ketika zaman semakin sulit, para pemuda masih saja belum menyadari penyimpangan perilaku mereka. Padahal saat krisis seperti ini, kekuatan pemuda sangat diandalkan untuk membangkitkan negeri ini dari keterpurukan. Kurang tegasnya Negara dalam proses menyiapkan mental para pemuda menyebabkan banyak yang bermental lemah dan berperilaku menyimpang. Para penyelenggara Negara yang mengemban amanah rakyat turut berperan besar dalam mencipatakan sistem yang melindungi para pemuda yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Maka ketika pemuda saat ini bermental lemah, dipastikan sistem yang ada sekarang ini tidak lagi cocok untuk diterapkan. Namun jika sistem yang sama terus digunakan berulang-ulang meskipun telah diketahui hasilnya kurang memuaskan, maka perlu adanya pergantian penyelenggara Negara.

Pemuda adalah aset bangsa, ketika pemuda Indonesia banyak yang rusak maka dipastikan dimasa mendatang Indonesia hanyalah tinggal nama tanpa tempat. Begitu mudahnya merusak pemuda zaman sekarang, merusak dengan narkoba, dengan pornografi, dan media massa kekerasan, dan dengan budaya kebarat-baratan yang ‘bebas’. Sungguh prihatin, jika para pemuda Indonesia kalah dulu sebelum bertemput, artinya para pemuda sudah rapuh didalamnya sehingga mempertahankan diri sendiri saja sulit apalagi mempertahankan eksistensi bangsa dan Negara di mata bangsa lain.

Satu pemuda yang kuat mental dan pemikirannya lebih berarti daripada 1000 pemuda yang bermental lemah dan kurang pemikiran matangnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk membuat suatu gebrakan besar-besaran untuk menyadarkan para pemuda Indonesia untuk bangkit mengangkat harga diri bangsa Indonesia. Gebrakan besar harus diawali oleh Negara, itu seperti mencanangkan sistem penjaminan pendidikan baik fisik dan nonfisik oleh Negara,, mewajibkan para pemuda memberikan kontribusi nyata untuk Negara sesuai dengan kemampuannya, dan lain sebagainya. Melalui momen Sumpah Pemuda tahun 1928, maka perlu pula dirintis kesadaran pemuda untuk bersumpah memperjuangkan negerinya dimulai dari yang kecil hingga yang luas. Semangat sumpah pemuda bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, sampai lingkup Negara. Jika tak dimulai dari sekarang, maka kapankah negeri ini akan segera bangkit jika para pemudanya masih saja berdiam diri. Karena sesungguhnya jika ada niat maka pasti ada jalan. Tetapi itu semua tergantung pada kesadaran setiap pemuda, apakah mereka masih mencintai negeri Indonesia ini? Zaman akan semakin sulit, jika tak berubah sekarang akan terburu oleh kehancuran yang tak diinginkan.

———————ooo0ooo—————————

BIODATA PENULIS

Nama : Diana Andriyani P, S.Sos

TTL/Umur : Surakarta, 2 Juni 1984 / 24 Th

Alamat : Babadan Baru Gg.Cendana No.212 RT12/RW39 Banguntapan Yogyakarta 55198

Telepon : 0274-383327 / 0274-6500 790

Email : teo_keren@yahoo.com

Iklan