Revitalisasi Hati Nurani

Adiva

Adiva

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya: (QS Al-Fajr : 27-28)

Akhir-akhir ini kita sering melihat berita kerusuhan-kerusuhan yang banyak terjadi di berbagai daerah. Kerusuhan yang berbau anarkis tersebut melibatkan remaja hingga orang dewasa. Sebutlah salah satu sebagai contohnya kerusuhan mahasiswa UISI di Sumatera Utara yang mengakibatkan tidak sedikit kerugian baik materi maupun manusia. Aparat penegak hukum yang diharapkan dapat mengamankan situasi ricuh yang rentan terjadi di masyarakat tidak jarang malah ikut bentrok dengan pelaku kerusuhan. Masalah yang menjadi sumber konflik pun sesungguhnya dapat diselesaikan dengan jalan musyarah mufakat. Perdamaian akan terus terjalin apabila antar anggota masyarakat menyadari bahwa sesungguh mereka adalah saudara yaitu sama-sama sebagai hamba Allah SWT.

Sejak masa reformasi bergulir, kita sering melihat berbagai kerusuhan yang melibatkan warga masyarakat umum lebih banyak berbau anarkis atau tindak kekerasan serta pengrusakan. Contoh terburuk kerusuhan yang terjadi pada akhir dekade sejarah bangsa kita adalah kerusuhan Mei 1998 dimana ketika itu kerusakan materi yang dialami bangsa ini sangat besar sehingga bangsa ini sempat mengalami keadaan resesi beberapa waktu. Rupanya kerusuhan Mei 1998 bukan merupakan kerusuhan terakhir yang berbau anarkis. Situasi ini mengindikasikan bahwa bangsa ini telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman dan berbudaya. Itu berarti ada penyimpangan karakter manusia di dalamnya. Perbaikan mental-spiritual bangsa ini sangat mendesak untuk segera dilakukan.

Menurutkan hawa nafsu, itulah mungkin yang dapat kita katakan melihat keadaan sekarang ini. Banyak warga masyarakat kita sekarang ini belum menyadari sepenuhnya bahwa mereka telah dikuasai oleh hawa nafsu mereka sendiri. Padahal kita ketahui bahwa memperturutkan hawa nafsu tak akan terpuaskan dan pada akhirnya hanya membawa kerugian bagi manusia itu sendiri. Hawa nafsu yang cukup berbahaya karena jelas membahayakan keselamatan orang lain adalah nafsu amarah. Orang yang sudah dikuasai oleh nafsu amarah ini tidak segan-segan menghancurkan orang lain dengan segala cara. Hati nuraninya tidak berfungsi pada saat itu. Sungguh berbahaya orang yang dikuasai nafsu amarah. Kita pun akan dapat mengalami hal itu jika hati nurani kita sudah tidak berfungsi lagi. Karena hati nurani adalah “alat pengendali” perilaku serta pikiran kita. Untuk dapat mengendalikan nafsu amarah serta ragam emosi yang lain kita perlu memfuingsikan hati nurani kita kembali. Karena revitalisasi hati nurani sangat berpengaruh pada pengendalian diri.

Nafsu amarah yang kurang bias dikendalikan merupakan indikasi adanya kerusakan pada alat pengendali perilaku kita yaitu hati nurani. Dalam pandangan Islam, hati nurani merupakan tempat keberadaan nilai-nilai yang bersifat fitrah. Dalam setiap diri kita tertanam nilai-nilai fitrah seperti kasih saying, kesabaran, kelemah-lembutan, serta kerinduan akan kebenaran yang hakiki.Jikalau nilai-nilai fitrah itu mulai pudar, laksana cermin yang usang karena terkotori oleh debu dan kotoran lain yang menempel. Demikian halnya dengan hati nurani kita yang tiada lagi berfungsi karena terkotori oleh dosa dan maksiat yang banyak pada Allah SWT. Hati nurani yang belum bersih dari dosa dan maksiat menyebabkan hawa nafsu akan senantiasa menang dalam mengendalikan perilaku kita. Akibatnya, perilku kita akan semakin jauh dari agama Allah SWT, padahal kita semua tahu bahwa azab Allah itu sangatlah keras dan pedih.

Membersihkan serta memurnikan hati nurani kita dari tumpukan dosa dan maksiat harus kita lakukan sesegera mungkin apabila kita merasa rentan melakukan hal yang akan semakin mengotori hati nurani kita agar kita tidak semakin jauh dari Allah SWT. Jika emosi dikendalikan dari dalam yaitu dari hati nurani maka semua wujud emosi akan lembut, positif, dan baik. Memurnikan hati nurani dapat kita lakukan dengan kembali menata diri yaitu memohon ampunan dari Allah. Ibadah serta amalan yang lalu kita perbaiki lagi dengan satu hal yang penting yaitu kita lakukan degan sungguh – sungguh. Apabila akses kita dijalan Allah telah lancar kembali maka energi fitrah dalam diri kita akan membersihkan hati nurani, sehingga fungsi hati nurani kita dapat berjalan sedemikian rupa. Hidup kita yang dikendalikan oleh hati nurani secara otomatis dapat mengendalikan hawa nafsu dan ragam emosi, insyaallah.

Iklan