DAN


ponari-insert1 Oleh : Diana Andriyani P, S.Sos

Nama Ponari si dukun cilik, akhir-akhir ini terus menjadi pemberitaan di berbagai media massa. Namanya mulai disorot media ketika praktek pengobatannya di Jombang Jawa Timur telah memakan korban jiwa hingga 4 orang akibat berdesak-desakkan saat mengantri pengobatan. Meskipun telah memakan korban cukup banyak, namun anehnya masyarakat yang mengantri masih saja membludak, bahkan ada yang datang dari luar daerah sampai menginap di sekitar rumah Ponari, demi mengantri sebuah celupan batu ajaib ala pengobatan Ponari. Pengobatan ala Ponari yang sederhana namun konon katanya ampuh mengobati serta biaya pengobatan yang sukarela, telah menjadikan Ponari seoleh-olah menjadi Satriyo Piningit (ksatria terpilih) untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman penyakit dan masalah kesehatan. Fenomena Ponari menarik banyak pihak untuk mengkritisi Pemerintahan saat ini, yang membuktikan bahwa fasilitas kesehatan bagi masyarakat belum memadai dan terjangkau biayannya oleh masyarakat. Apalagi ketika pemilu semakin dekat waktunya, fenomena ini akan menjadi salah satu batu sandungan dalam evaluasi pemerintahan saat ini.

Fenomena Ponari memiliki banyak arti dalam menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Dari segi budaya, fenomena Ponari menggambarkan bahwa masyarakat masih memegang teguh kepercayaan (dinamisme) yang cukup kuat berakulturasi dengan pengaruh budaya praktis modernisasi. Masyarakat yang ingin sembuh cepat dengan biaya terjangkau didukung pula pemahaman pada kepercayaan (dinamisme) melahirkan konstruksi pemikiran dan perilaku masyarakat sekarang yang lebih mengandalkan kepercayaan semata dan mengabaikan logika. Masyarakat ini merasa terdesak memenuhi kebutuhannya (dalam hal ini kesehatan) sedangkan sarana dan prasarana untuk memenuhinya harganya tidak terjangkau oleh masyarakat. Lain lagi dari segi sosial ekonomi, fenomena Ponari ini menggambarkan kebiasaan masyarakat untuk mempercayakan pengobatan dan perawatan kesehatan mereka pada hal-hal yang ghaib, karena dianggap memiliki kekuatan lebih untuk mengobati. Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat yang sebagian besar masih miskin dan fasilitas sarana dan parasarana masih mahal mengakibatkan masyarakat lebih memilih mengabaikan masalah kesehatan dulu, sehingga penyakit itu menahun dan terpaksa pergi ke rumah sakit/fasilitas kesehatan untuk diobati karena telah parah. Dari segi agama, fenomena Ponari juga memberikan gambaran, bahwa agama yang berkembang di Indonesia ini merupakan hasil dari akulturasi antara agama pendatang dengan kepercayaan asli nenek moyang Indonesia (animisme dan dinamisme). Sehingga masih banyak masyarakat yang memiliki pemikiran perilaku yang dipengaruhi oleh setengah oleh agama dan setengah lagi oleh kepercayaan nenek moyang. Dari ketiga segi gambaran fenomena Ponari itu saja sudah mengambarkan begitu banyak kondisi yang terjadi di masyarakat, dimana kondisi ini dapat menjadi salah satu bahan evaluasi pemerintahan saat ini dan pemerintahan yang terpilih agustus 2009 mendatang.

Banyak parpol yang mengikuti PEMILU, banyak biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan PEMILU yang demokratis, banyak janji yang ditebarkan oleh para calon wakil rakyat dan para calon presiden, namun masih banyak juga masyarakat yang sudah apatis dan pesimis terhadap hasil PEMILU 2009 ini. Masyarakat sudah bosan dengan janji-janji semu, masyarakat bosan dengan penderitaan, dan masyarakat pun banyak yang berencana memilih untuk Golput, alias menjadi golongan putih. Meski golput bukanlah jalan keluar yang terbaik, tetapi keputusasaan dan kepesemisan masyarakat akan masa depan yang lebih baik mendorong banyak orang memilih jalan ini. Keadaan ini akan berbeda ketika ada ksatriyo piningit, seperti layaknya Ponari si dukun cilik yang sederhana dan tanpa pamrih menolong orang-orang namun mampu membuat masyarakat tersugesti untuk optimis menghadapi hidup, datang memberikan bukti nyata bukan janji semata. ##