Anak-anak-dalamSTOP PRAKTEK ASUSILA DI DUNIA PENDIDIKAN

Berita yang menggemparkan akhir-akhir ini berkaitan dengan dunia pendidikan adalah terungkapnya beberapa kasus asusila yang terjadi antara pendidik dengan anak didiknya. Kasus asusila ini menyangkut kekerasan seksual oknum pendidik (guru/dosen) pada anak didiknya (murid/mahasiswa). Salah satunya adalah yang terjadi pada anak-anak di salah satu SD di daerah Tapanuli, Sumatera Utara. Seorang oknum guru SD tersebut menyuruh dua anak muridnya untuk melakukan perilaku oral seks di depan teman-temannya. Dua siswa tersebut diancam tidak akan naik kelas jika tidak mau melakukannya. Sungguh peristiwa ini membuat kita semua menjadi sangat prihatin. Bagaimana tidak, masa depan anak murid tersebut terancam buram, karena rasa trauma dan ketakutan atas pengalaman buruk seperti di diatas. Kondisi ini mengganggu kejiwaan anak-anak dan terus membayangi kehidupannya hingga dewasa nanti. Sehingga kelak dimungkinkan akan tumbuh menjadi manusia yang rmental lemah dan mudah frustasi. Praktek asusila yang terjadi di dunia pendidikan bukan hanya di Tapanuli, tetapi beberapa wilayah di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Modus operadi hampir sama, yaitu ancaman tidak naik kelas dan iming-iming nilai bagus dipakai oleh para tersangka praktek asusila yang terjadi dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Seperti pelecehan seksual seorang oknum guru SD di Kudus, seorang oknum guru SMA di Yogyakarta, seorang pelatih futsal di salah satu SMA di Jakarta, dan pelecehan seksual seorang oknum dosen terhadap mahasiswinya di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Kasus-kasus pelecehan seksual yang mencoreng dunia pendidikan terulang hingga beberapa kali, lalu apakah pemerintah dan kita sebagai warga masyarakat merasa kondisi ini sudah saatnya perlu diperhatikan, sebagai gejala mulai bergesernya tatanan sosial kehidupan masyarakat.

Pendidikan merupakan dasar berjalannya kehidupan. Pendidikan menjadi elemen penting dalam proses pembentukan cikal bakal masyarakat yang lebih beradab. Tanpa adanya pendidikan, kehidupan manusia tentu masih primitif dan hukum rimba masih berlaku. Dalam proses pendidikan ada transfer ilmu kehidupan, penanaman nilai-nilai luhur kehidupan, dan pelaksanaan norma-norma masyarakat. Jika dalam dunia pendidikan terdapat pelanggaran norma susila maka hal ini menandakan adanya gejala penyimpangan peradaban masyarakat. Kalau banyak norma dilanggar, seperti norma susila, norma agama, norma kesopanan, dan norma hukum, maka yang terjadi adalah kekacauan dalam kehidupan masyarakat, kondisi demikian akan mengancam kelangsungan kehidupan masyarakat. Dalam proses pendidikan, guru/pendidik merupakan elemen terpenting dalam menentukan kesuksesan proses pendidikan. Jika guru baik maka muridnya pun tidak akan jauh dari perilaku gurunya. Pepatah Jawa mengatakan, guru singkatan dari yang bisa digugu(diteladani) dan ditiru. Negara Jepang, negara maju di Asia, pun membuktikan bahwa guru adalah elemen penting dalam kesuksesan proses pendidikan. Buktinya, saat Jepang dibom nuklir sekutu di  Hiroshima dan Nagasaki, banyak warga Jepang yang meninggal. Kaisar Jepang saat itu pun memutuskan untuk mengumpulkan semua guru yang tersisa untuk kemudian membangun kembali Jepang melalui pengentasan pendidikan hingga setinggi-tingginya. Hasilnya, kini dapat dilihat, Jepang menjadi salah satu negara maju yang berasal dari wilayah Asia. Selain itu, profesi guru di negara Jepang adalah profesi yang sangat dihormati, kesejahteraan guru pun terjamin disana. Perlakuan masyarakat Jepang pada guru-guru di Jepang seharusnya menjadi referensi dalam menerapkan aturan tegas dan membudaya dalam masyarakat di Indonesia.

Selama ini, proses seleksi dan penerimaan guru-guru di berbagai elemen pendidikan baik formal maupun informal masih berdasarkan derajat intelegensia dan strata pendidikannya saja. Aspek penilaian kejiwaan menyangkut jiwa pendidik seakan-akan diabaikan. Sehingga memberi peluang pada oknum-oknum guru untuk menyalahgunakan wewenang untuk melampiaskan hawa nafsunya. Meski tidak sedikit guru-guru yang berdedikasi tinggi untuk mendidik anak bangsa, seperti Ibu guru Siti Muslimah yang kisahnya diabadikan mantan muridnya Andrea Hirata dalam sebuah novel berjudul “Laskar Pelangi”, namun masih banyak guru-guru yang menjadikan pekerjaannya tersebut hanya sebatas profesi untuk semata-mata mencari uang. Oleh karena itu, kini saatnya reformasi pendidikan tidak hanya sebatas pada perbaikan mutu pendidikan dan peningkatan kesejahteraan guru, tetapi juga perlu adanya pengetatan peraturan dalam seleksi penerimaan guru. Karena faktor jiwa pendidik dalam jiwa seorang guru, tidak dapat dipungkiri, menjadi faktor penting yang menunjang terlaksananya etika guru dan kesuksesan proses pendidikan di masa mendatang. Psikotest jiwa pendidik harus diterapkan dengan tegas dalam proses penyeleksian. Selain itu, aturan ketat mengenai etika guru dan sanksi yang berat terhadap pelanggarannya sangat perlu untuk segera diberlakukan sesegera mungkin. Sebelum jatuh korban-korban pelecehan seksual lainnya, akibat oknum guru yang tidak bertanggung jawab.

Peran para pelaku kehidupan yaitu Pemerintah dan masyarakat saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi pergeseran nilai akibat pengaruh globalisasi. Masyarakat yang mulai menyadari kondisi seperti ini, perlu memperbaiki diri dengan kembali memegang teguh norma-norma dalam masyarakat untuk kehidupan, seperti norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum. Serta membentengi diri dari arus globalisasi dengan filter norma yang berlaku tersebut. Selain masyarakat, Pemerintah pun harus tanggap terhadap kondisi yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat, dengan membuat peraturan yang melindungi masyarkat dari kejahatan interpersonal masyarakat. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama saling mendukung dalam menghadapi gejala pergeseran nilai dan norma dalam masyarakat akibat pengaruh globalisasi. Pemerintah melindungi masyarakat dan masyarakat menaati Pemerintah. Semoga harmonisasi ini akan membawa kemajuan kehidupan yang lebih baik bagi Indonesia tidak hanya maju dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga meningkatnya nilai luhur kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.

Sekali lagi mari selamatkan generasi bangsa dari kerusakan moral dan mental yang lemah.