Kemana Regenerasi Bangsa?


Struktur pendidikan untuk regenerasi bangsa di Indonesia sekarang ini banyak sekali menganut konsep pendidikan ala negara-negara Barat. Jangankan hanya aspek pendidikan bahkan seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia mengadopsi pola struktur negara-negara Barat. Jika demikian, maka perlu dipertanyakan akankah Indonesia di masa depan akan dapat hidup mandiri dengan mengadopsi seluruh konsep Barat?

Struktur pendidikan negara-negara Barat yang terlihat sangat bagus dan modern, ternyata kini dapat dilihat akibat yang dtimbulkannya. Pemanasan global kini mulai menjadi ancaman serius bagi dunia. Jika konsep pendidikan ala Barat mengaku sangat mencintai dan dapat bersinergi dengan alam, lalu mengapa kini ada pemanasan global? Generasi hasil didikan konsep pendidikan ala Barat memfokuskan bekerja dengan otak tanpa kontrol dari hati. Umum diketahui, bahwa pola pendidikan konsep Barat lebih condong ke sekulerisme, yaitu menitik beratkan pada nalar/logika semata tanpa disertai kontrol hati/perasaan antar makhluk hidup maupun dengan alam semesta. Sungguh ironi, ketika bencana besar mulai mengancam manusia  kini nalar serta logika tak dapat mencari jalan keluarnya. Mungkinkah bencana akibat pemanasan global sesegera mungkin dapat diatasi sekarang? Jawabnya sangatlah sulit. Karena masyarakat dunia sekarang yang peduli terhadap lingkungan sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah masyarakat dunia yang mengejar harta/kekayaan. Bencana sudah terjadi dimana-mana namun kesadaran masyarakat akan hal tersebut belumlah terlalu tampak. Inikah regenerasi bangsa yang kita banggakan?

Tak dipungkiri lagi, pemikiran sekulersime kini banyak melanda masyarakat dunia.  Dimana hati dan perasaan tidak diikutsertakan adalam pengelolaan alam dan lingkungan. Generasi muda bangsa sekarang yang menjadi kebanggaan bangsa hanyalah segelintir jumlahnya. Sedangkan sejumlah besarnya lainnya lebih mengasah kemampuan diri untuk memakmurkan diri mereka sendiri tanpa memperhatikan kepentingan bangsa dan alam semesta lingkungannya. Akibatnya,  rasa kemanusiaan yang mereka miliki sangatlah kurang, rasa cinta mereka terhadap lingkungan dan alam sekitar juga sangat kurang, bahkan rasa keprihatinan mereka pun sangat kurang. Generasi muda sekarang lebih banyak condong pada hura-hura atau banyak mengeluh dan berandai-andai. Kerja keras yang seharusnya mereka lakukan namun hanya bermimpi yang dapat mereka lakukan. Lalu apakah bangsa ini akan membiarkan regenerasi bangsa akan berhenti dan bisa jadi mendekati “kepunahan”.

Ketika bangsa Indonesia merdeka, terelu-elukan cita-cita untuk mensejahterakan bangsa. Namun kini pada kenyataannya masyarakat Indonesia yang sejahtera hanyalah sekelompok kecil orang sedangkan yang lain menjadi tetap pada posisinya semula. Lebih ironis lagi, kemerdekaan yang dahulu susah payah direbut kini hanya meninggalkan  kemerdekaan semu belaka. Karena hampir seluruh asset kekayaan bangsa ini telah berpindah tangan ke individu-individu serta bangsa lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa bangsa ini sekarang diibaratkan sebuah bangunan yang masih kokoh berdiri tapi didalamnya tiang penyangganya telah keropos dan mulai meruntuhkan bangunan sedikit demi sedikit. Bukti nyaek


Iklan