BERTAHAN HIDUP DI ZAMAN SERBA UANG

Oleh : Diana Kustejo


Zaman globalisasi semakin keras “memaksa” manusia untuk berjuang lebih keras lagi dalam berkompetisi mempertahankan hidup. Sesuatu yang bernilai tinggi dan sangat berkuasa dalam zaman ini adalah uang. Tidak ada yang lebih tinggi dari pada uang dan uang. Uang dapat membeli segalanya, hinggga orang dapat memuaskan segala keinginannya. Makna kebahagiaan di zaman ini adalah ketika orang dapat terus terpenuhi segala keinginannya dengan uang. Uang bahkan dapat mengalahkan segala aturan yang ada sekaligus menindas orang lain demi kepuasan hidup pribadi. Hidup tanpa uang di zaman ini seakan dunia sudah kiamat. Akhirnya, segala cara dan upaya dijalankan, tidak peduli aturan agama ataupun aturan hukum apalagi aturan adat budaya leluhur.

Semuanya terlupakan atau bahkan dilewatkan. Semua hanya dengan uang dan hanya demi uang yang berlimpah. Semua aturan seakan dibuat hanya untuk dilanggar dengan segala strategi licik demi memuluskan jalan orang-orang untuk mendapatkan uang. Makan butuh uang, mandi dan buang air pun butuh uang, bahkan mati pun butuh uang. Zaman uang seperti ini mengisyaratkan bahwa orang yang tidak memiliki uang tidak boleh hidup di zaman ini. Zaman serba uang itulah zaman yang kita hadapi saat ini, setidaknya zaman seperti itu telah dimulai sekarang .

Zaman serba uang mengubah pola pemikiran orang (mainset) menjadi hanya demi meraup uang sebanyak-banyaknya. Tengoklah anak-anak dan remaja sekarang. Sedari mereka sekolah, mereka telah terbentuk pikirannya untuk dapat meraih uang. Kurikulum mengikuti standar ilmu yang digunakan dalam industri dan bisnis internasional yang intinya adalah untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.  Ilmu yang mereka miliki adalah ilmu praktis yang mengutamakan kemampuan kognitif dan mengeyampingkan aspek batiniah serta sosial. Ilmu – ilmu sosial tidak lagi laku dan terkalahkan oleh ilmu-ilmu praktis seperti ekonomi, teknik, dan teknologi canggih termasuk komputer. Zaman globalisasi ini telah melahirkan orang-orang dengan tipe individualistik. Fokus tujuan mereka adalah bagaimana memanfaatkan ilmu mereka untuk meraup uang agar diri sendiri sejahtera. Akibatnya, wacana kesejahteraan bersama dan aspek persaudaraan hanya menjadi bagian formalitas kehidupan tanpa jiwa yang menyertainya.

Zaman serba uang telah melahirkan manusia-manusia individualistik yang pada akhirnya pula memiliki paham sekulerisma. Sekulerisme adalah paham dimana uang adalah segala-galanya,  hingga pudarnya kepercayaan akan adanya kekuasaan Tuhan atau hal-hal diluar pikiran rasional. Agama tidak lagi memiliki peran penting dalam kehidupan. Agama hanya menjadi acara seremonial dan formalitas kehidupan belaka. Sekulerisme ini sangat dekat hubungannya dengan sifat individualistik. Kedua sifat ini sebenarnya sangat membahayakan karena secara tidak langsung merusak alam dan peradaban manusia menjadi lebih bersifat hukum rimba. Padahal kondisi seperti ini akan sangat menghilangkan identitas pribadi manusia dan bangsanya di tahun-tahun berikutnya. Namun mainset mereka tetaplah hidup tidak dapat bahagia dan sejahtera tanpa uang. Apalah bisa dikata, hidup di zaman serba uang ya mau tidak mau harus dapat uang untuk hidup, tidak peduli pada apapun selain uang untuk hidup. Akibatnya, ketika uang menjadi segala-galanya, orang akan mudah sekali putus asa dan melakukan bunuh diri karena sangat sulit menemukan solusi tanpa adanya uang. Karena di zaman serba uang ini segala bidang kehidupan diperoleh harus dengan uang, seperti kebutuhan pokok (sembako), pendidikan, kesehatan, dan pergaulan.  Semua serba uang dan semua serba mahal. Pikiran pun rumit dan sehari-hari bekerja menghabiskan umur hanya untuk mendapatkan uang. Sementara uang itu memiliki sifat sangat mudah hilang. Jika kita berpikir lebih sederhana maka jerat pikiran uang adalah segalanya sebenarnya akan lepas. Karena sesungguhnya hidup itu ditentukan oleh Tuhan dan bukan oleh uang.

Banyak wacana-wacana tentang kearifan lokal serta budaya lokal sering mengemuka di pergaulan masyarakat namun itu hanya selintas lalu saja. Tidak banyak lagi yang benar-benar menjalankannya. Hanya segilintir orang yang bersedia bertahan dan menghindar dari paham individualistik dan sekulerisme. Mereka ini pun hidup mati-matian untuk bertahan dengan keputusannya, meskipun masih  tidak dapat hidup tanpa uang. Namun semua itu memiliki dampak yang berbeda pada setiap orang yang mengambil keputusan yang berbeda. Orang-orang yang bertahan hidup dengan menghindari sifat individualistik dan sekulerisme akan lebih nyaman hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Hidup mereka aman bukan hanya semata-mata karena uang akan tetapi mereka aman karena ada jaringan sosial yang melindungi mereka. Karena ketika tidak ada lagi pelindung diri sendiri dan bahkan uang pun tidak ada, masih ada jaringan sosial yang melindungi seperti keluarga besar, tetangga tempat tinggal, saudara sekampung, dan lain-lain. Jaringan sosial ini sesungguhnya lebih berharga dari pada bermilyar-milyar uang. Uang bisa hilang kapan saja namun persaudaraan erat tidak mudah hilang dicuri atau dirampok. Selain jaringan sosial, orang yang bertahan hidup dengan keputusan ini juga mempertahankan budaya dan kearifan lokal dengan mengutamakan agama di atas segalanya. Tuhanlah majikan mereka dan bukannya uang. Hal ini ternyata menjadikan mereka raja bagi diri mereka sendiri. Karena mereka pasrahkan semua hal dan masalah diluar kendali mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga mereka merasa selalu ada jalan keluar dalam setiap permasalahan yang dihadapi. Mereka pun dapat menikmati kebahagiaan hidup tanpa ada pikiran putus asa ataupun bunuh diri, karena keyakinan bahwa Tuhan selalu melindungi mereka.

Zaman globalisasi menuntut semua negara di dunia ikut serta dalam era persaingan pasar bebas. Dengan topeng demi pemerataan kesejahteraan negara-negara maju memperprakarsai adanya pasar bebas. Setiap negara dituntut harus dapat berkompetisi agar dapat eksis sebagai negara yang merdeka. Hal ini memaksa tiap negara untuk berlomba-lomba mempersiapkan diri demi memenangkan kompetisi ini atau setidaknya bertahan agar tidak jatuh bangkrut dan miskin. Kita terjebak dalam sebuah permainan bola dunia yang bernama globalisasi, dimana kita harus menyadari bahwa kita masih ada di bawah dan bukannya di atas. Globalisasi telah menggiring manusia untuk menjadikan uang di atas segala-galanya. Tinggal hati nurani masing-masing manusia untuk menentukan apakah akan terbawa arus atau berpegang teguh pada prinsip hidup yang hakiki dibawah tuntunan agama dan hati nurani. Zaman serba uang menjadikan kita sadar bahwa kita perlu bertahan di zaman uang ini dengan belajar lebih arif dan bijksana agar tidak terbawa arus negatif globalisasi. Selain itu, perlu disadari pula bahwa globalisasi bukanlah satu-satunya solusi yang bisa diambil untuk memeratakan kesejahteraan bangsa-bangsa di dunia.#

Iklan