PRIHATIN REMAJA KINI DALAM JEBAKAN GLOBALISASI

Oleh : Diana Andriyani P, S.Sos

Heboh kasus anak umur 9 tahun melahirkan bayi menjadi salah satu indikasi adanya degradasi moral yang cukup parah terjadi di dunia. Moral tak lagi sebagai bagian penting hidup tetapi hanya sebagai retorika pelengkap hidup semata. Benarlah jika ada yang menyebut zaman ini zaman edan/gila. Karena memang nilai-nilai luhur kemanusiaan menjadi hal yang sepele. Tidak hanya di dunia, krisis moral pun tengah melanda Indonesia. Akhir-akhir ini banyak diberitakan remaja dan anak-anak terlibat dalam perbuatan asusila. Penyakit klasik masyarakat yaitu prostitusi kini mulai dijalankan oleh anak-anak. Tidak secara fulgar mereka menjual diri tetapi melalui kecanggihan teknologi seperti handphone dan internet. Salah satu kasus terbaru yang terkuak adalah kasus prostitusi remaja belia via jejaring sosial facebook yang dibongkar di Surabaya. Ironisnya, sementara Pemerintah berusaha meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dengan teknologi, akan tetapi yang terjadi krisis moral menjadi tidak terkontrol.

Remaja adalah cikal-bakal penerus bangsa, memprihatinkan jika para remaja rusak oleh budaya yang mengarah ke liberal. Globalisasi telah melahirkan lingkungan baru dimana masyarkatnya lebih individualis sehingga kontrol sosial pun semakin renggang. Norma-norma kemasyarakatan seperti norma kesusilaan, kesopanan, dan agama pun kehilangan kekuatan sehingga disepelekan dan bahkan sering dilanggar. Ini akibat perubahan sosial kemasyarakatan yang tidak terkontrol. Memang diakui globalisasi memberikan kemajuan pola kehidupan menjadi lebih modern, mandiri, serta maju kualitas kehidupannya. Tetapi itu hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat saja. Masyarakat yang tergolong menengah ke bawah terjungkal-jungkal mengikuti perkembangan zaman. Pengetahuan apa adanya mereka gunakan untuk menguasai teknologi dan mengikuti perkembangan zaman, akibatnya banyak terjadi penyalahgunaan fungsi teknologi. Di sisi lain, kemajuan teknologi juga merampas ladang nafkah masyarakat minim pendidikan. Pada akhirnya, segala cara dilakukan oleh mereka yang minim pendidikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ada beberapa faktor yag perlu kita diperhatikan agar remaja tak lagi krisis moral di zaman globalisasi :

  1. Faktor Lingkungan, mewaspadai tontonan televisi yag tidak layak untuk dilhat oleh anak-anak, serta lingkungan rumah yang tidak sehat dari penyakit masyarakat, mengontrol anak-anak saat mereka bergaul dengan anak-anak mereka, serta mengontrol penggunaan fasilitas handphone dan internet yang mereka pakai.
  2. Faktor Keluarga, keluarga wajib menerapkan peraturan yang ketat untuk mengatur jadwal kehidupan para remaja, serta mendidik jiwa mereka dengan budi pekerti yang luhur dan keteladanan orang tua, mewujudkan suasana keluarga yang harmonis dan akrab satu sama lain, selain itu hindari sifat individualistik dan konsumerisme, yang lebih penting lagi transformasi pengetahuan secara utuh dan mempertahankan nilai-nilai luhur keluarga.
  3. Faktor Pendidikan, kurikuum Pemerintah yang padat tidak hanya diisi dengan teori dan keterampilan penguasaan bisnis dan teknologi semata. Namun juga dibutuhkan kurikulum pendidikan budi pekerti, yang dilengkapi penyuluhan-penyuluhan keluarga berencana, pendalaman agama, dll.

Remaja adalah aset bangsa di masa depan, jangan sampai remaja-remaja bangsa Indonesia seperti robot, pintar berteknologi tapi tidak memiliki jiwa sosial serta budi pekerti yang luhur. Perlu untuk disadari bahwa sebagian besar remaja saat ini berada dalam krisis moral yang cukup memprihatinkan. Masyarakat dan Pemerintah harus bekerjasama dan bergotng-royong untuk mencegah krisis ini terus berlanjut.#